Latest News

Sejarah Pancasila

Minggu, 20 Desember 2009 , Posted by eqho at 17.30





Mari kita telusuri fakta-fakta sejarah tentang kelahiran pancasila. Dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945, Bung Karno menyatakan antara lain:”Saya mengakui, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. di Surabaya, saya dipengaruhi seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, – katanya : jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 1917. akan tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ia adalah Dr. Sun Yat Sen ! Di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, saya mendapatkan pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan oleh A. Baars itu.

Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh“The THREE people’s Principles” itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, -sampai masuk ke liang kubur.”



Lebih lanjut ketika membicarakan prinsip keadilan sosial, Bung Karno, sekali lagi menyebutkan pengaruh San Min Cu I karya Dr. Sun Yat Sen:”Prinsip nomor 4 sekarang saya usulkan. Saya didalam tiga hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu kesejahteraan, prinsip: tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka. Saya katakan tadi prinsipnya San Min Cu I ialah “Mintsu, Min Chuan , Min Sheng” : Nationalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita …..harus …… sociale rechtvaardigheid.”

Pada bagian lain dari pidato Bung Karno tersebut, dia menyatakan:”Maka demikian pula jikalau kita mendirikan negara Indonesia merdeka, Paduka tuan ketua, timbullah pertanyaan: Apakah Weltanschaung” kita, untuk mendirikan negara Indonesia merdeka di atasnya?Apakah nasional sosialisme ? ataukah historisch-materialisme ? Apakah San Min Cu I, sebagai dikatakan oleh Dr. Sun Yat Sen ? Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tapi “Weltanschaung” telah dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku “The THREE people’s Principles” San Min Cu I,-Mintsu, Min Chuan , Min Sheng” : Nationalisme, demokrasi, sosialisme,- telah digunakan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschaung itu, tapi batu tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas “Weltanschaung” San Min Cu I itu, yang telah disediakan terlebih dahulu berpuluh-puluh tahun.” (Tujuh Bahan Pokok demokrasi, Dua – R. Bandung, hal. 9-14.)

Pengaruh posmopolitanisme (internasionalisme) kaya A. Baars dan San Min Cu I kaya Dr. Sun Yat Sen yang diterima bung Karno pada tahun 1917 dan 1918 disaat ia menduduki bangku sekolah H.B.S. benar-benar mendalam. Ha ini dapat dibuktikan pada saat Konprensi Partai Indonesia (partindo) di Mataram pada tahun 1933, bung Karno menyampaikan gagasan tentang marhaennisme, yang pengertiannya ialah :

(a) Sosio – nasionalisme, yang terdiri dari : Internasionalisme, Nasionalisme

(b) Sosio – demokrasi, yang tersiri dari : Demokrasi, Keadilan sosial.

Jadi marhaenisme menurut Bung Karno yang dicetuskan pada tahun 1933 di Mataram yaitu : Internasionalisme ; Nasionalisme ; Demokrasi : Keadilan sosial. (Endang Saifuddin Anshari MA. Piagam Jakarta, 22 Juni 1945, Pustaka Bandung1981, hql 17-19.)

Dan jika kita perhatikan dengan seksama, akan jelas sekali bahwa 4 unsur marhainisme seluruhnya diambil dari Internasionalisme milik A. Baars dan Nasionalisme, Demokrasi serta keadilan sosial (sosialisme) seluruhnya diambil dari San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.

Sekarang marilah kita membuktikan bahwa pancasila yang dicetuskan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI adalah sama dengan Marheinisme yang disampaikan dalam Konprensi Partindo di Mataram pada tahun 1933, yang itu seluruhnya diambil dari kosmopolitanisme milik A. Baars dan San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen. Di dalam pidato Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945 itu antara lain berbunyi :”Saudara-saudara ! Dasar negara telah saya sebutkan, lima bilangannya. Inikah Panca Dharma ? Bukan !Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar…..Namanya bukan Panca Dharma, tetaoi….saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa…..namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. Kelima sila tadi berurutan sebagai berikut:

(a) Kebangsaan Idonesia;

(b) Internasionalisme atau peri-kemanusiaan;

(c) Mufakat atau domokrasi;

(d) Kesejahteraan sosial;

(e) Ke-Tuhanan.

(Pidato Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945 dimuat dalam “20 tahun Indonesia Merdeka” Dep. Penerangan RI. 1965.)

Kelima sila dari Pancasila Bung Karno ini, kita cocokkan dengan marhaenisme Bung Karno adalah persis sama, Cuma ditambah dengan Ke Tuhanan. Untuk lebih jelasnya baiklah kita susun sebagai berikut:

(a) Kebangsaan Indonesia berarti sama dengan nasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan nasionalisme milik San Min Cu I milik Dr. Sun yat Sen, Cuma ditambah dengan kata-kata Indonesia.

(b) Internasionalisme atau peri-kemanusiaan berarti sama dengan internasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan internasionalisme (kosmopolitanisme) milik A. Baars.

(c) Mufakat atau demokrasi berarti sama dengan demokrasi dalam marhaenisme, juga sama dengan demokrasi dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen;

(d) Kesejahteraan sosial berarti sama dengan keadilan sosial dalam marhaenisme, juga berarti sama dengan sosialisme dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.

(e) Ke-Tuhanan yang diambil dari pendapat-pendapat para pemimpin Islam, yang berbicara lebih dahulu dari Bung Karno, di dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945.

Dengan cara mencocokkan seperti ini, berarti nampak dengan jelas bahwa Pancasila yang dicetuskan oleh Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945, yang merupakan”Rumus Pancasila I”, sehingga dijadikan Hari Lahirnya Pancasila, berasal dari 3 sumber yaitu:

a) Dari San Min Cu I Dr. Sun Yat Sen (Cina);

b) Dari internasionalisme (kosmopolitanisme A. Baars (Belanda).

c) Dari umat Islam.

Jadi Pancasila 1 juni 1945, adalah bersumber dari : (1) Cina; (2) Belanda; dan (3) Islam. Dengan begitu bahwa pendapat yang menyatakan Pancasila itu digali dari bumi Indonesia sendiri atau dari peninggalan nenek moyang adalah sangat keliru dan salah !

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa sebelum sidang pertama BPUPKI itu berakhir, dibentuklah satu panitia kecil untuk :

a) Merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara, berdasarkan pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945.

b) Menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamirkan Indonesia merdeka.

Dari dalam panitia kecil itu dipilih lagi 9 orang untuk menyelenggarakan tugas itu. Rencana mereka itu disetujui pada tanggal 22 Juni 1945, yang kemudian diberikan nama dengan “Piagam Jakarta”.

Piagam Jakarta berbunyi:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan bebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan ikut melasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum Dasar Negara Indonesia yang berdasar kedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada : Ke- Tuhanan, dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk – kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indinesia.”


Jakarta, 22-6-1605.

Ir. SOEKARNO ;

Drs. Mohammad Hatta ;

Mr. A.A Maramis ;

Abikusno Tjokrosujoso ;

Abdul Kahar Muzakir ;

H.A. Salim ;

Mr. Achmad Subardjo ;

Wachid Hasjim ;

Mr. Muhammad Yamin

(Moh. Hatta dkk. Op.cit. hal. 30-32)

Dengan begitu, maka Pancasila menurut Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan ini merupakan Rumus Pancasila II, berbeda dengan Rumus Pancasila I. Lebih jelasnya Rumus Pancasila II ini adalah sebagai berikut ;

a) Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya;

b) Kemanusiaan yang adil dan beradab ;

c) Persatuan Indonesia ;

d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ;

e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Rumus Pancasila II ini atau lebih dikenal dengan Pancasila menurut Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, baik mengenai sitimatikanya maupun redaksinya sangat berbeda dengan Rumus Pancasila I atau lebih dikenal dengan Pancasila Bung Karno tanggal 1 juni 1945. pada rumus pancasila I, Ke-Tuhanan yang berada pada sila kelima, sedangkan pada Rumus Pancasila II, ke-Tuhanan ada pada sila pertama, ditambah dengan anak kalimat – dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kemudian pada Rumus Pancasila I, kebangsaan Indonesia yang berada pada sila pertama, redaksinya berubah sama sekali menjadi Persatuan Indonesia pada Rumus Pancasila II, dan tempatnyapun berubah yaitu pada sila ketiga. Demikian juga pada Rumus Pancasila I . Internasionalisme atau peri kemanusiaan, yang berada pada sila kedua, redaksinya berubah menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab. Selanjutnya pada Rumus Pancasila I, Mufakat atau Demokrasi, yang berbeda pada sila ketiga, redaksinya berubah sama sekali pada Rumus Pancasila II, yaitu menjadi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan menempati sila keempat. Dan juga pada Rumus Pancasila I, kesejahteraan sosial yang berada pada sila keempat, baik redaksinya, maka Pancasila pada Rumus II ini, tentunya mempunyai pengertian yang jauh berbeda dengan Pancasila pada Rumus I.

Rumus Pancasila II ini atau yang lebih populer dengan nama Pancasila menurut Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945, yang dikerjakan oleh panitia 9, maka pada rapat terakhir BPUPKI pada tanggal 17 Juni 1945, secara bulat diterima rumus Pancasila II ini.

Sehari sesudah proklamasi, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, terjadilah rapat “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” (PPKI). Panitia ini dibentuk sebelum proklamasi dan mulai aktip bekerja mulai tanggal 9 Agustus 1945 dengan beranggotakan 29 orang. Dengan mempergunakan rancangan yang telah dipersiapkan oleh BPUPKI, maka PPKI dapat menyelesiakan acara hari itu, yaittu:

a) Menetapkan Undang-Undang Dasar ; dan

b) Memilih Presidan dan Wakil Presiden dalam waktu rapat selama 3 jam.

Dengan demikian terpenuhilah keinginan Bung Karno yang diucapkan pada waktu membuka rapat itu sebagai ketua panitia dengan kata-kata sebagai berikut ; “Tuan-tuan sekalian tentu mengetahui dan mengakui, bahwa kita duduk di dalam suatu zaman yang beralih sebagai kilat cepatnya. Maka berhubungan dengan itu saya minta sekarang kepada tuan-tuan sekalian, supaya kitapun bertindak di dalam sidang ini dengan kecepatan kilat.”

Sedangkan mengenai sifat dari Undang-Undang Dasarnya sendiri Bung Karno berkata:”Tuan-tuan tentu mengerti bahwa ini adalah sekedar Undang-Undang Dasar sementara, Undang-Undang Dasar Kilat, bahwa barangkali boleh dikatakan pula, inilah revolutie grodwet. Nanti kita akan membuat undang-Undang Dasar yang lebih sempurna dan lengkap. Harap diingat benar-benar oleh tuan-tuan, agar kita ini harus bisa selesai dengan Undang-Undang Dasar itu.”

Dalam beberapa menit saja, tanpa ada perdebatan yang substansil disahkan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, dengan beberapa perubahan, khususnya dalam rumus pancasila. (Pranoto Mangkusasmito, Pancasila dan sejarahnya, Lembaga Riset Jakarta, 1972, hal. 9-11.)

Adapun Pembukaan undang-Undang Dasar, yang didalamnya terdapat Rumus Pancasila II, yang disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, adalah sebagai berikut :


PEMBUKAAN


“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan bebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam satu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada : Ke- Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Dengan demikian disahkannya Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, maka Rumus Pancasila mengalami perubahan lagi, yaitu:

a) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

b) Kemanusiaan yang adil dan beradab ;

c) Persatuan Indonesia ;

d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ;

e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perubahan esensial dari Rumus Pancasila II atau Pancasila menurut Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 dengan Rumus Pancasila III atau Pancasila menurut Pembukaan Undang-Undang Dasar tanggal 18 Agustus 1945, yaitu pada sila pertama “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” diganti dengan “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa” . perubahan ini ternyata dikemudian hari menumbuhkan benih pertentangan sikap dan pemikiran yang tak kunjung berhenti sampai hari ini. Sebab umat Islam menganggap bahwa pencoretan anak kalimat pada sila pertama Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, oleh PPKI adalah suatu pengkhianatan oleh golongan nasionalis dan kristen. Karena Rumus Pancasila II telah diterima secara bulat oleh BBUPKI pada tanggal 17 Juli 1945.

Selanjutnya melalui aksi militer Belanda ke-I dan ke- II , dan dibentuknya negara-negara bagian oleh Belanda, pemberontakan PKI di Madiun, statemen Roem Royen yang mengembalikan Bung Karno dan kawan-kawannya dari Bangka ke Jogjakarta, sedangkan Presiden darurat RI pada waktu itu ialah Mr. Syafruddin Prawiranegara, sampailah sejarah negara kita kepada konfrensi meja bundar di Den Haag (Nederland). Konfrensi ini berlangsung dari tanggal 23 Agustus 1949 sampai tanggal 2 November 1949. dengan ditandatanganinya “Piagam Persetujuan” antara delegasi Republik Indonesia dan delegasi pertemmuan untuk permusyawaratan federal (B.F.O.) mengenai “Konstitusi Republik Indinesia Serikat” (RIS) di Seyeningen pada tanggal 29 Oktober 1949, maka ikut berubahlah Rumus Pancasila III menjadi Rumus Pancasila IV. Rumus Pancasila IV ini termuat dalam muqadimah Undang-Undang Dasar Republik Indinesia Serikat (RIS), yang bunyinya sebagai berikut:


Mukadimah


Kami bangsa Indonesia semenjak berpuluh-puluh tahun lamanya bersatu padu dalam perjuangan kemerdekaan, dengan senantiasa berhati teguh berniat menduduki hak hidup sebagai bangsa yang merdeka berdaulat.

Ini dengan berkat dan rahmat Tuhan telah sampailah kepada ringkatan sejarah yang berbahagia dan luhur.

Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam satu piagam negara yang berbentuk Republik Federasi berdasarkan pengakuan “Ketuhanan Yang Maha Esa, Peri kemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan keadilan sosial.”

Untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna.

Secara jelasnya Rumus Pancasila IV atau pancasila menurut mukadimah Undang-Undang Dasar RIS tanggal 29 Oktober 1949, adalah sebagai berikut;

a. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

b. Peri-Kemanusiaan.

c. Kebangsaan.

d. Kerakyatan dan

e. Keadilan sosia.

Perubahan yang terjadi antara Rumus Pancasila II dengan Rumus Pancasila IV adalah perubahan redaksional yang sangat banyak, yang sudah barang tentu akan membawa akibat pengertian pancasila itu menjadi berubah pula.

Republik Indinesia Serikat tidak berumur sampai 1 tahun. Pada tanggal 19 Mei 1950 ditanda tangani “Piagam Persetujuan” antara pemerintah RIS dan pemerintah RI. Dan pada tanggal 20 Juli 1950 dalam pernyataan bersama kedua pemerintah dinyatakan, antara lain menyetujui rencana Undang-Undang Dasar sementara negara kesatuan Republik Indonesia seperti yang dilampirkan pada pernyataan bersama”. Pembukaan Undang-Undang Dasar sementara negara kesatuan Repiblik Indonesia seperti yang dilampirkan pada pernyataan bersama. Pembukaan Undang-Undang Dasar sementara 1950, yang didalamnya terdapat rumus Pancasila, adalah sebagai berikut;


Mukadimah


“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Dengan berkat dan rahmat Tuhan tercapailah tingkat sejarah yang berbahagia dan luhur.

Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam negara yang berbentuk Republik Kesatuan, berdasarkan pengakuan ketuhanan yang maha esa, peri kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial, untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan yang berdaulat sempurna”.

Untuk jelasnya Rumus Pancasila di dalam mukadimah Undang-Undang Dasar sementara dapat disusun sebagai berikut;

a) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

b) Peri-Kemanusiaan.

c) Kebangsaan.

d) Kerakyatan dan

e) Keadilan sosial.

Rumus Pancasila dalam mukadimah Undang-Undang Dasar sementara adalah merupakan rumus pancasila V. dan ternyata antara Rumus Pancasila IV dan Rumus Pancasila V tidak ada perubahan baik sitimatikanya maupun redaksinya.

Tetapi setelah dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, yang menyatakan “Pembubaran kostituante dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar 1945”, Rumus Pancasila mengalami perubahan, baik redaksinya maupun pengertiannya secara esensial dan mendasar. Sebab setelah itu Bung Karno merumuskan Pancasila dengan menggunakan “ Teori Perasan” yaitu pancasila itu diperasnya menjadi tri sila ( tiga sila) : sosionasionalisme (yang mencakup kebangsaan Indonesia dan peri kemanusiaan); Sosio demokrasi (yang mencakup demokrasi dan kesejahteraan sosial dan ketuhanan. Trisila ini diperas lagi menjadi Ekasila (satu sila); Ekasila itu tidak lain ialah gotong-royong. Dan gotong royong diwujudkan oleh Bung Karno dalam bentuk nasakom (nasional, agama dan komunis).

Lebih jelasnya teori perasan Bung Karno dapat disusun sebagai berikut:

1. Pancasila itu diperasnya menjadi tri sila (tiga sila).

2. Trisila terdiri atas:

a) Sosionasionalisme

b) Sosio

c) Ketuhanan.

3. Trisila diperas menjadi Ekasila

4. Ekasila yaitu gotong-royong.

Teori perasan Bung Karno ni bukan masalah baru, tetapi itulah hakekat Pancasila yang ia lahirkan pada tanggal 1 Juni 1945; dan hal ini dapat dilihat dari pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPKI, yang antara lain berbunyi, “Atau barang kali ada saudara-saudara yang tidak senang adas bilangan itu ? Saya boleh peras sehingga tinggal tiga saja. Saudara Tanya kepada saya apakah perasan tiga perasan itu ? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia, Weltanschaung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan, saya peras menjadi satu : itulah yang dahulu saya namakan socio-nationalisme. Dan demokresi yang bukan demokrasi barat, tetapi pilitiek economiche democratie, yaitu pilitieke democratie dengan sociale rechtvaardigheid, demikrasi dengan kesejahteraan saya peraskan pula menjadi satu. Inilah yang dulu saya namakan socio democratie.

Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain.

Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socionationalisme, sociodemocratie dan ketuhanan. Kalau tuan senang dengan simbul tiga ambillah yang tiga ini. Tetapui barangkali tidak semua tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu dasar saja ? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu ? ……Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong-royong ! alangkah hebatnya ! negara gotong-royong.

Selain “teori perasan’ Pancasila, Bung Karno menjabarkan dan melengkapi Pancasila itu dengan Manifesto Politik ( Manipol ) dan USDEK ( Undang-Undang Dasar 45, Sosialisme Indonesis, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribaian Indonesia). Hal ini bisa kita jumpai di dalam “Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi”, ynag antara lain menyatakan : “Ada orang menanya : Kepada Manifesto Polotik ? Kan kita sudah mempunyai Pancasila? Manifesto Politik adalan pancaran dari Pancasila; USDEK adalah pemancaran dari pada Pancasila. Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila adalah terjalin satu salam lain. Manifesto politik, USDEK dan pancasila tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika saya harus mengambil qiyas agama – sekadar qiyas – maka saya katakan : Pancasila adalah semacam Qur’annya dan Manifesto Politik dan USDEK adalah semacam Hadits-haditsnya. Awas saya tidak mengatakan bahwa Pancasila adalah Qur’an dan Manifsesto Politik dan USDEK adalah hadits ! Qur’an dan Hadits shahih merupakan satu kesatuan, – maka pancasila dan Manifesto politik dan USDEK adalah merupakan satu kesatuan. Teori perasan Pancasila yang dilengkapi dengan manifesto Politik dan USDEK adalah merupakan Rumus Pancasila VI.

Dengan Naskaom memberi peluang yang besar kepada golongan komunis seperti Partai Komunis Indonesia ( PKI ) untuk memasuki berbagai instansi sipil dan militer. Dominasi komunis di dalam pemerintahan dan berbagai sektor kehidupan, memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kudeta dan perebutan kekuasaan; meletuslah Gerakan 30 September PKI.

Meletusnya G 30 S / PKI dari kandungan Nasakom, yang membawa runtuhnya rezim Orde Lama, menurut regim Orde baru disebabkan oleh penyelewengan pancasila dari rel yang sebenarnya. Oleh karena itu rezim Orde Baru mencanangkan semboyan “Laksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen”.

Menurut Orde baru, khususnya angkatan ’66, bahwa penyelewengan Pancasila oleh rezim orde Lama disebabkan “belum jelasnya filsafat Pancasila dan belum adanya tafsiran yang terperinci”. Pendapat ini bisa dilihat dari kesimpulan “Simposium Kebangkitan Generasi ’66 Menjelajah Tracee baru”, yang diselenggarakan pada tanggal 6 mei 1966, bertempat di Universitas Indonesia; yang isinya antara lain sebagai berikut :

Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang dasar ’45

pasal 1 ayat 2 yang berbunyi: “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR.”

Dan juga terdapat dalam pasal 3 yang berbunyi: “MPR menetapkan undang-undang dasar dan garis-garis besar pada haluan negara.”

Pasal 20 ayat 1 : “ DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang.”

Pasal 22 ayat 2 berbunyi: “Peraturan pemerintah itu harus mendapat persetujuan DPR dan persidangan yang berikut.”

Ayat 3 :”Jika tidak mendapatkan persetujuan, maka peraturan tersebut harus dicabut.”




Masukan ini dipos pada Juni 21, 2008 2:24 pm dan disimpan pada sejarah dengan kaitan (tags) bung karno, dpr, indonesia, jakarta, ketuhanan, lahir, mpr, Ni', pancasila, sejarah, sosialis, undang-undang. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.

36 Tanggapan ke “Sejarah Lahirnya Pancasila.”
ridwan Berkata
September 8, 2008 pada 2:55 am
saya bangga bahwasana Indonesia terlahir sebagai bangsa & negara kesatuan yang memiliki dasar & ideologi PANCASILA…

Balas
andhyka fariz salam Berkata
Juni 8, 2009 pada 12:02 pm
apakah anda sudah memahami, menjankan serta menerapkan semua nilai-nilai yang ada dalam setiap sila pancasila?????

Balas
manutroshma Berkata
Oktober 22, 2008 pada 2:36 pm
seharusnya kita harus jujur melihat, sejarah.. Kok yang mengemuka dalam lahirnya Pancasila adalah Bung Karno. Seharusnya sejarah juga mencatat, bahwa konsep yang murni dari Pancasila itu adalah juga dari M. Yamin. tetapi kenapa dalam setiap perbincangan mengenai Pancasila M. Yamin ditinggalkan… Padahal juga banyak ahli sejarah yang mau jujur juga mengakui bahwa sebetulnya naskah yang autentik tentang Pancasila sesungguhnya murni berasal dari M. Yamin… Jangan lupakan sejarah ini… BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG JUJUR DENGAN SEJARAHNYA SENDIRI

Balas
komang Berkata
November 21, 2008 pada 9:20 am
sejarah menurut saat pada kerajaan apakah udah ada nilai- nilai pancasila

Balas
jolodhong Juga mau berkata Berkata
Desember 7, 2008 pada 10:14 pm
PANCASILA adalah lahir karena suatu akibat dari resapan yang ada dimuka nusantara ini. bentuk ke-bhineka-an peradaban yg selama berabad2 tahun telah ada di bumi nusantara ini. soekarno hanyalah penggali dari suatu peradaban yang telah ada untuk bisa dijadikan pondasi kenegaraan di Indonesia. cukup jelas dan padat.. PANCASILA jangan lagi diperdebatkan!!! udah muak…PANCASILA ADALAH HARGA MATI!!!

Balas
khanif Berkata
Desember 11, 2008 pada 6:57 am
pancasila,,,,,,,
ideologi yang sedang dianut oleh bangsa kita memang sangat sesuai dengan kondisi yang ada di indinesia, beraneka ragam suku, agama, budaya, dan ras,, sangat fleksibel yang membuat pancasila tidak akan diubah-ubah
pemikir “pencetus”pancasila dulu memang sangat hebat, mereka merasa satu untuk kesatuan bangsa indonesia… wala beda tapi mereka tidak mau egois dengan keinginan masing-masing….
thx

Balas
Andi.Teguh Wira Reski Berkata
Januari 14, 2009 pada 4:10 am
soekarno memang hebat..!!!

Balas
SAPMA Berkata
Januari 30, 2009 pada 4:22 am
PANCASILA ABADI ! ! ! !

terlepas dari hitam putih fakta sejarah yang terungkap serta tipisnya perbedaan antara kebenaran dengan “pembenaran” perlu kita sadari dan kita renungkan bahwa samapi dengan detik ini pancasila merupakan dasar dari NKRI. nilai – nilai pancasila mempunyai tingkat kesesuaian yang tinggi dengan kemajemukan bangsa ini. Pancasila mengakomodir semua kepentingan bangsa yang majemuk, tanpa membedakan agama, suku, ras, golongan. karena perbedaan itulah yang membuat bangsa ini besar. setiap penggalan kisah sejarah meninggalkan suatu hikmah dan pelajaran yang hendaknya dapat kita manifestasikan secra benar agar kita tidak tergelincir di lubang yang sama. saling menyalahkan bukanlah jalan keluar. kebebasan dalam demokrasi bukanlah ajang untuk saling menyalahkan tetapi pada hakekatnya adalah kebersamaan untuk mencari solusi secara bersama untuk mengatasi persoalan. sebagai salah satu dari komponen bangsa kesadaran dan tanggung jawab moral untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengedepankan moral, etika dan hati nurani dalam bertindak dan berprilaku labih penting ketimbang mencari pembenaran. bangsa ini dapat bangkit dari keterpurukan tatkala seluruh komponen bangsa ini sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. perbedaan adalah hal yang wajar, karena dari perbedaan dan kemajemukan itulah bangsa ini ada. akan tetapi perbedaan bukanlah suatu hal yang harus dimaknai dengan salah. perbedaan haruslah dimaknai sebagi anugrah, karena perbedaan itulah yang melengkapi satu sama lain.

PANCASILA ABADI ! ! ! !

Balas
Sejarah Lahirnya Pancasila : Nusantara Baru Berkata
Februari 18, 2009 pada 8:35 am
[...] ~Sumber Mayapadha [...]

Balas
Betty Catharina (Caleg Partai Patriot,Dapil Pancoran Mas, Depok Berkata
Maret 20, 2009 pada 9:05 am
Pnacasila Abadi ! Setelah perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia sampai lahirnya Pancasila dan UUD’45…..maka…SEHARUSNYA KITA HARGAI PENGORBANAN DAN PERJUANGAN yg telah mereka LAKUKAN!!! TERNYATA….di masa masuknya ERA GLOBALISASI….PANCASILA DAN UUD’45 TIDAK LAGI BERFUNGSI dgn sebagaimana mestinya….! Sila-1, Apakah masih dapat dipertahankan? Krn Jujur saja masih banyak kendala yg dihadapi oleh rakyat indonesia yg ingin melakukan KEGIATAN AGAMA KEPERCAYAAN mereka! Dimana Sila Ke-2, Apakah ada kemanusiaan yg adil dan beradab yg sesungguhnya bagi rakyat Indonesia.Sila Ketiga, Jika ada persatuan Indonesia,salah satu contoh;mengapa kita kembali membentuk pemerintahan Otorita?Sila-4,Apakah masih Presiden bertanggung jawab thd MPR?Sila-5,Apakah Keadilan Sosial juga dirasakan oleh rakyat Indonesia,contoh;di daerah-daerah apalagi yg terpencil?Mari…kita bersama MENGEMBALIKAN BUTIR-BUTIR PANCASILA DAN UUD’45 SBG ASAS DAN DASAR NEGARA BANGSA INDONESIA!!! Amin…..!!! Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang….

Balas
soya Berkata
April 4, 2009 pada 6:23 pm
Terima kasih sudah menjelaskan apa sih pancasila itu.

Walau Pancasila adalah landasan idiil negara kita, tetapi banyak sekali perbedaan dalam penulisan pada sila perrtama yakni:
“KeTuhanan Yang Maha Esa”

ada yang menulis Ketuhanan ada juga yang menulis KeTuhanan atau Ke-Tuhanan

Sampai saat ini saya pun tidak mengetahui tulisan mana yang benar…….

Sampai-sampai lagu kebangsaan Indonesia Raya kita-pun ketika dinyanyikan menjadi Endonesia Raya

Mungkin ini dikarenakan terlalu banyaknya orang yang meremehkan penulisan atau pelafalan. Bayangkan saja, ketika mencari pancasila di search engine……. lebih banyak pancasila dalam bahasa inggris daripada bahasa Indonesia……… Terima kasih atas kepedulian menceritakan sejarah kita di multiply ini.

Jabat erat,

Soya

Balas
a pirate _smkn 1 ngawi_ Berkata
April 16, 2009 pada 12:56 pm
kenapa sich semua sejarah pancasila gk ada yang jelas?? aku tu pengen tau penemu panca itu siapa? sila itu siapa? trus tntang 5 apa gitu aku gk tau!! pkoknya banyak deh yang seharusnya mau aku tanyain?? soalnya aku lagi cari materi buat tes bantara!! kalo da yang tau e-mAIL AKU YA ke vhyvhyd@gmail.com aku tunggu lo!!!

Balas
dewi Berkata
Mei 22, 2009 pada 2:06 pm
Walaubagaimanapun Pancasila dapat dijadikan “rem” secara umum bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa melihat suku ,agama strata sosial dan sebagainya, jika tepat memaknainya maka tepat pula penerapannya, jangan melihat siapa yang memberikan usul dari sila Pancasila atau siapa yang mendukungnya….tapi kita lihat hakekat Pancasila itu sendiri dengan lapang dada ,tanpa emosi yang bertopeng idealis agar lahir pemahaman yang tepat sasaran, karena sekarang ini lebih banyak orang menilai dengan setengah pemahaman dan berbalut idealis yang transparan hingga timbul tindakan2 di luar kontrol kemanusiaan yang menyinggung keberadaan Pancasila yang dianggap tidak sempurna. Whatever…Pancasila sudah mendarahdaging bagi bangsa kita dan kita coba untuk tetap mamahaminya di segala era…..

Balas
joandz Berkata
Juni 10, 2009 pada 3:34 am
mengapa nilai-nilai pancasila pada saat ini semakin dilupakan oleh rakyat pancasila?

Balas
joandz Berkata
Juni 10, 2009 pada 3:34 am
mengapa nilai-nilai pancasila pada saat ini semakin dilupakan oleh rakyat
indonesia?

Balas
Fatih Berkata
Juni 11, 2009 pada 12:53 am
Assalaam..Ane Fatih, di Sydney. Mari berpikir secara nyata dan kritis. Apa Pancasila itu simbolis? Jika ya, kita perlu SESUATU yang tidak hanya simbolis, tapi juga operasional, bisa mengatur sistem, poleksosbudhankam. Sesuatu yang bisa membebaskan Indonesia dari cengkeraman para penguasa yang pengecut dan membebek pada pola pikir iblis hasil kampanye barat, yang menghalalkan dan yang mengesahkan para perampok sumber kekayaan alam, baik lokal terutama internasional, yang justru menjadi kewajiban negara untuk mendistribusikannya kepada rakyat. Sesuatu yang bisa mengakhiri penjajahan non fisik di Indonesia dan negara-negara korban kapitalis, yang saat ini masih berlangsung. Sesuatu yang mengikis sistem ekonomi yang kapitalistik, sistem kesehatan dan pendidikan yang materialististik, sistem politik yang oportunistik, sistem sosial yang individualistik dan hedonistik, tanpa memaksa rakyat Indonesia untuk keluar dari agama yang diyakini. SESUATU itu adalah SYARIAT ISLAM. Bagi yang mau menanggapi, silahkan langsung ke fatih.ns99@yahoo.com atau +61432809485. Wassalaam..

Balas
Jefo Makatita Berkata
Juli 4, 2009 pada 3:11 pm
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. saya merasa bangga menjadi anak Indonesia. akan tetapi rasa bangga itu masi belum terwujud dalam cita-cita kemerdekaan sebagaimana yang di cita-citakan oleh pendiri bangsa ini. kemerdekaan yang sejatinya menjadi hak dan milik anak seluruh bangsa Indonesia, suda seharunya dapat merasakan akan hal itu, akan tetapi masi jauh dari seutuhnya. berbagai regulasi-regulasi yang diciptakan justru sudah tidak sesuai dengan cita-cita dan Nilai-nilai UUD 1945 dan Pancasila sebagai Ideologi bangsa. akan tetapi semoga saja di satu massa adanya regenerasi pemimipin bangsa ini, dengan terobosan-teroboasan konsep yang baik, yang berpihak pada kehidpan seluruh rakyat Indonesia dan dapat membawah kejayaan bangsa indonesia di mata dunia internasional, sebagai bangsa dan Negara yang besar dan majuh, dan juga sangat disegani oleh negara-negara lain. sebagaimana negara-negara majuh lainnya. Amin……..

Indonesiaku Bangkitlah
Ndonesiaku Tunjuhkan Merah putimu
Indonesiaku aku Cinta padamu
Indonesiaku Aku Bangga Padamu
Indonesiaku Aku Rela Jiwa Ragaku Padamu, Meski Nyawa Taruhannya.

MERDEKA…!!!

Balas
fad_diel Berkata
Juli 17, 2009 pada 6:48 am
banyak banget….
setresssssssssssssssssssssssssssssssssss….

Balas
aris Berkata
Juli 29, 2009 pada 1:29 pm
waduuhh.. iya nih prasaan smakin lama nilai2 moral pancasila semakin jauh dari kehidupan kita…

gw jg sedih kl hrus menerima smua ini terjadi pd bangsa kita, yg telah sekian lama terjajah dari bngsa lain and skarang udah merdeka karena perjuangan para pahlawan kita.. kok skarang kyknya pemuda2 kita gak begitu peduli yah atas jasa2 yg telah dilakukan pahlawan kta dulu….

Balas
Mael_Aruan Berkata
Agustus 3, 2009 pada 9:55 am
Di era Globalisasi saat ini, Pemuda-Pemudi terkesan melupakan kelima prinsip tersebut. Maka dari itu, Pancasila harus dikembalikan kepada prinsip² awalnya..

(Soekarnoisme)

Balas
Diana Krenhapukh Eka Putri Berkata
September 20, 2009 pada 11:08 pm
Sebagai anak bangsa, pandangan saya nilai2 luhur Pancasila harus dilestarikan karena merupakan perekat atas keanekaragaman budaya bangsa Indonesia serta kepercayaan yg ada di Bangsa ini.

Balas
Aznoe Yacob Berkata
September 24, 2009 pada 8:41 am
Trimz…jelas……….
Sejarah memuat fakta dan penilaian,,dan terkadang sejarah sarat dengan nuansa intervensi kepentingan&kekuasaan politik…..,,fakta yang transparan,tersembunyi bahkan di sembunyikan…………,,realitas sebuah negeri muslim terbentuknya negara dengan azas di tengah pertarungan ideologi global,,kemerdekaan yg dimanfaatkan…???dimanakah orang-orang Islam sbagai kaum mayoritas yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini, fahamkah mereka terhadap Al-Quran&sunnah akan pentingnya kemuliaan hukum Tuhan…..,,boleh jadi korban kepentingan konspirasi global dari gerakan Transnasional komunis&Sekuler di tengah pasca penghancuran,keruntuhan ideologi Islam Global di bawah naungan chilapate/Khilafah pada masanya………..,,,…yaaah Pancasila mungkin hanya ada saat fase Bapak Sokarno&Bapak Soeharto..,,sang dua pemimpin yang Idealis…,,next time……./ Pengagum Jendral Besar Soedirman.

Balas
jlegong Berkata
September 25, 2009 pada 2:09 am
anda belajar sejarah pada abad 20 bung…
harusnya anda mengetahui bahwa ilmuwan Eropa dan Timur Tengah semenjak abad ke 8 sudah mempelajari sistem pemerintahan di Indonesia.
Jadi Pancasila dan Bhineka Tungal Ika adalah asli milik rakyat Nusantara.

ilmuwan atau apalah yang anda tulis disini adalah ilmuwan abad 20…
silakan cari sejarah majapahit, sistem pemerintahan majapahit, tata negara majapahit, hukum perkara dan pidana majapahit, dari situ asal semua yang berhubungan dengan pancasila dan UUD.

Balas
afri darmawan Berkata
Oktober 6, 2009 pada 3:07 pm
prisip tetaplah sebuah perinsip,panasila juga bnyak penyatakan bagian dari prisip bangsa ini,,,sepakat,tetapi apakah pancila menjdi suatu yang hafsah bagi kelangsungan bngsa ini

Balas
Vivi Aprilia Berkata
Oktober 10, 2009 pada 6:32 am
Duhh.., puciiing !!

mau nyari Sejarah Pancasila malah jdi rbet gni..

Klu gni cranya bsa-bsa IP mta-kul pancasila aQ bsa jblok !!

Ada gk yg tau jlasnya sejarah pancasila?????

Balas
miny Berkata
Oktober 26, 2009 pada 9:40 am
,,,y dasar lu’nya ajj yg IJ

Balas
KikiE Berkata
Oktober 11, 2009 pada 4:08 am
Oit. . . emang bener tuh prosesnya? Tapi, dari dosen saia pernah berkata.. Pancasila muncul sudah dari kerajaan Hindu Budha dahulu kala, lalu empu tantular dengan bahasa sansekertanya dari kerajaan Majapahit (Abad 16) itu juga merancang 5 sila atau 5 aturan tetapi belum bernama Pancasila,, nah.. apa itu juga berperan atau engga om” semua?? balas aja di e-mail gw rizkimaru_san@yahoo.com

thank’s

Balas
juan tendean Berkata
Oktober 12, 2009 pada 5:35 pm
bagus

Balas
miftahulrahman Berkata
Oktober 22, 2009 pada 4:38 pm
q ingin tau lebih dalam lgi

Balas
mo2 Berkata
Oktober 24, 2009 pada 7:38 am
yupz…………. bener.!!!
sebagai bangsa yg baik setiap orang itu harus memiliki jiwa nasionalisme untuk menjunjung tinggi harkat martabat bangsa indonesia……………. menurut ndie n gw semua generasi penerus bangsa ini harus memiliki jiwa pancasila yg mantap n jg bisa jujur dgn sejarah bangsanya………………………… keeey .. ntu baru bangsa indonesia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Balas
Aznoe Yacob Berkata
Oktober 25, 2009 pada 2:20 pm
hehe..Abad 20???…yang abad 8 aja mengkaji referensi abad sbelumya sesuai kondisi alamnya.. thanks for abad 8 untk referensi yang mereka abadikan semoga Tuhan membalas jasa mereka…memandang sejarah tidak bisa scra parsial….,,,memahami hal2 yang lainnya sngat penting apalagi geopolitik global dalam menafsirkan sebuah sejarah………..,,majapahit?? kenapa negeri ini komunitas terbesarnya Muslim ya,,siapa yang ngasih nama negeri ini dgn nama Indonesia ya….,,Asal produk dalam negeri gitu…,,klo gitu berarti negeri belanda banyak mengadopsi hukum majaphit ya…,
mugkinkah sebuah muatan upaya kodifikasi fakta untuk sebuah justifikasi sejarah yang subur dalam kajian yang parsialistik…

tenang aja neng vivi..pucing tuh tanda mikir berarti vi manusia cerdas oukeh..next time….Salam pera pecinta Tuhan………..

Balas
Jose Gustavo Berkata
November 3, 2009 pada 6:15 pm
saya salut dengan artikel ini dan saya sangat sepakat, akan tetapi ada yang harus bisa kita jabarkan lagi mengenai G30S, yang sesunguhnya terjadi pada 1 Oktober dini hari, oleh sebab itu Bung Karno mengatakan itu adalah GESTOK (GErakan SaTu OKtober) . Juga mengenai KUDETA?? Siapa KUDETA adalah pertanyaan besar! dan kenapa Komunis harus Kudeta?? sudah mencari bukti bukti yang lebih konkrit! lalu bagai mana dengan isu Dewan Jendral yang sengaja dihembuskan agar memancing tindakan gegabah oleh petinggi PKI! Bukankah sudah jelas bahwa itu adalah upaya sekutu (CIA) untuk dapat masuk dan mengendalikan pemerintahan Indonesia sehingga mereka dengan bebas bisa menguasai kekayaan kita dan sebagai upaya kedua Imperialis ketika gagal menawarkan “bantuan” pinjaman yang ketika itu Bung Karno menolak mentah-mentah dengan ucapannya yang terkenal “GO TO THE HELL WITH YOUR AID”. Perintah Aidit pada saat itu adalah menculik yang disebut Dewan Jendral pada saat itu sebagai upaya pencegahan KUDETA yang telah di rencanakan Dewan Jendral tersebut. Isu Dewan Jendral memancing kemarahan PKI sehingga mereka menangkap Dewan Jendral untuk di Interogasi bukan di bunuh! lalu kenapa akhirnya mereka terbunuh?? sebelum saya menjawab lebih jauh lagi, saya ingin mengetahui apakah anda sudah mengetahui Kedekatan Suharto dengan PKI saat itu, lalu sudahkah anda pernah mendengar ungkapan “membalas dengan senyuman” ? yang mana ini ada hubungannya dengan kejadian ketika Nasution memergoki Suharto menyelundupkan beras bersama Liem Sio Liong sehingga Suharto ditangkap dan mendapat tamparan keras dari Ahmad Yani. Ini adalah hasil balas dendam Suharto terhadap Ahmad Yani dan Nasution dengan memanfaatkan PKI yang mana Suharto begitu dekat dengan PKI sehingga dia berhasil masuk kedalam tubuh PKI! CIA, SUHARTO, DEWAN JENDRAL nah dari mereka ada benang merah yang berkaitan dengan peristiwa RERA! (Cobalah merunut sejarah dan jangan setengah)

Pagi 1 Oktober 1965 Bung Karno berada di Halim. Malam harinya ia menginap di rumah istri Dewi Soekarno di Slipi (Wisma Yaso). Pagi-pagi setelah mendapat kabar mengenai penculikan para jenderal, ia berangkat bersama ajudan Parto menuju Istana negara, namun menjelang sampai Istana, jalanan diblokade oleh tentara. Menurut ajudan, pasukan tersebut tidak dikenal, karena memang tidak ada jadwal blokade jalan menuju Istana.

Dalam waktu cepat Parto mengambil inisiatif dengan tidak meneruskan perjalanan ke Istana. Mungkin ia menangkap firasat bahaya jika Presiden ke Istana. Lantas Parto mengusulkan Sebaiknya ke Halim saja, pak. Kalau ada apa-apa dari Halim akan dengan cepat terbang ke tempat lain, katanya. Bung Karno menurut saja. Dalam protokoler pengamanan presiden, jika pasukan pengaman merasa presiden dalam bahaya, maka tujuan utama adalah lapangan terbang. Dengan begitu presiden bisa diterbangkan ke mana saja secara cepat. Itu asal-muasal presiden berada di Halim. Mungkin Parto (juga Bung Karno) tidak tahu bahwa para jenderal diculik dan dibawa ke Halim. Sesampainya ke Halim pun Bung Karno belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Baru setelah beberapa saat di Halim, beliau diberitahu oleh para pengawal. Beberapa saat kemudian ia menerima laporan dari Brigjen Soepardjo. Aidit pagi itu juga berada di Halim. Inilah keanehannya: para tokoh sangat penting berkumpul di Halim. Kalau Oemar Dhani berada di sana, itu masih wajar karena ia adalah pimpinan AURI. Tetapi keberadaan Aidit di sana sungguh mengherankan. Bung Karno dan Oemar Dhani berada di satu tempat, sedangkan Aidit berada di tempat lain sekitar Halim. Setelah Bung karno terbang ke Istana Bogor (prosesnya dirinci di bagian lebih lanjut), Aidit terbang ke Jawa Tengah.

Beberapa hari kemudian Aidit ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto di Brebes, Jawa Tengah. Menurut kabar resmi Aidit ditembak karena saat ditangkap ia melawan. Tetapi menurut laporan intelijen kami Aidit sama sekali tidak melawan. Soeharto memang memerintahkan tentara untuk menghabisi Aidit, katanya. Dengan begitu Aidit tidak dapat bicara yang sebenarnya.

Saya lebih percaya pada laporan intelijen kami, sebab istri Aidit kemudian cerita bahwa pada tanggal 30 September 1965 malam hari ia kedatangan tamu beberapa orang tentara. Para tamu itu memaksa Aidit meninggalkan rumah. Suami saya diculik tentara, ujarnya. Setelah itu Aidit tidak pernah pulang lagi sampai ia ditembak mati di Brebes.

Hanya beberapa jam setelah para jenderal dibunuh sekitar pukul 11.00 WIB, 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dari pangkalan udara Halim mengeluarkan instruksi yang disampaikan melalui radiogram ke markas Besar ABRI. Saat itu Bung Karno hanya menerima informasi bahwa beberapa jenderal baru saja diculik. Belum ada informasi mengenai nasib para jenderal, meskipun sebenarnya para jenderal sudah dibunuh.

Inti instruksi Bung Karno adalah bahwa semua pihak diminta tenang. Semua pasukan harap stand-by di posisinya masing-masing. Semua pasukan hanya boleh bergerak atas perintah saya selaku Presiden dan Panglima Tertinggi ABRI. Semua persoalan akan diselesaikan pemerintah/Presiden. Hindari pertumpahan darah.

Demikian antara lain isi instruksi Presiden. Instruksi itu ditafsirkan Soeharto bahwa Untung dan kawan-kawan sudah kalah, karena gerakan menculik dan membunuh para jenderal tidak didukung oleh Presiden. Instruksi lantas disambut Soeharto dengan memerintahkan anak-buahnya menangkap Untung dan kawan-kawan.

Jelas ini membingungkan Untung. Ia sudah melapor ke Soeharto soal Dewan Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden Soekarno. Untung juga mengutarakan niatnya untuk mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka lebih dulu. Semua ini didukung oleh Soeharto. Bahkan Soeharto malah memberi bantuan pasukan.

Setelah anggota dewan Jenderal dibunuh, Soeharto malah menyuruh Untung ditangkap.

Mengenai soal ini saya ingat cerita Untung kepada saya saat kami sama-sama dipenjara di Cimahi. Untung dengan yakin mengatakan bahwa ia tidak akan dieksekusi meskipun pengadilan sudah menjatuhkan hukuman mati. Sebab Soeharto yang mendukung saya menghantam Dewan Jenderal. Malah kami didukung pasukan Soeharto yang didatangkan dari daerah, katanya. Teman-teman sesama narapidana politik juga tahu bahwa Untung adalah anak emas Soeharto. Tapi akhirnya Untung dihukum mati dan benar-benar dieksekusi.

Hampir bersamaan dengan keluarnya instruksi Presiden-mungkin hanya selisih beberapa menit kemudian – Soeharto memanggil ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko yang berada di Halim agar menghadap Soeharto di Makostrad. Ini mungkin hampir bersamaan waktunya dengan perintah Soeharto agar Untung dan kawan-kawan ditangkap. Di Makostrad Bambang Widjanarko diberitahu Soeharto agar Presiden Soekarno dibawa pergi dari Pangkalan Halim sebab pasukan dari Kostrad di bawah pimpinan Sarwo Edhi Wibowo sudah disiapkan untuk menyerbu Halim. okeh kawan2 berhubung saya ada ujian tengah semester satu maka nanti disambung lagi! trimakasih ! oh iya saya juga beragama tapi saya tidak pernah mendebatkannya, jangan sampai nanti kejadian Poso terulang kembali! agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku jadi tidak perlu di perdebatkan dan merasa paling benar sebab kita harus saling menghargai….. mmm sebetulnya itulah yang diajarkan Komunis! jadi kalo kawan2 yang belum mengerti apa itu komunis janganlah su’udzon ! wassallam! God Bless You (semoga Tuhan Menyertai Kalian Semua )

Balas
Jose Gustavo Berkata
November 3, 2009 pada 6:16 pm
saya salut dengan artikel ini dan saya sangat sepakat, akan tetapi ada yang harus bisa kita jabarkan lagi mengenai G30S, yang sesunguhnya terjadi pada 1 Oktober dini hari, oleh sebab itu Bung Karno mengatakan itu adalah GESTOK (GErakan SaTu OKtober) . Juga mengenai KUDETA?? Siapa KUDETA adalah pertanyaan besar! dan kenapa Komunis harus Kudeta?? sudah mencari bukti bukti yang lebih konkrit! lalu bagai mana dengan isu Dewan Jendral yang sengaja dihembuskan agar memancing tindakan gegabah oleh petinggi PKI! Bukankah sudah jelas bahwa itu adalah upaya sekutu (CIA) untuk dapat masuk dan mengendalikan pemerintahan Indonesia sehingga mereka dengan bebas bisa menguasai kekayaan kita dan sebagai upaya kedua Imperialis ketika gagal menawarkan “bantuan” pinjaman yang ketika itu Bung Karno menolak mentah-mentah dengan ucapannya yang terkenal “GO TO THE HELL WITH YOUR AID”. Perintah Aidit pada saat itu adalah menculik yang disebut Dewan Jendral pada saat itu sebagai upaya pencegahan KUDETA yang telah di rencanakan Dewan Jendral tersebut. Isu Dewan Jendral memancing kemarahan PKI sehingga mereka menangkap Dewan Jendral untuk di Interogasi bukan di bunuh! lalu kenapa akhirnya mereka terbunuh?? sebelum saya menjawab lebih jauh lagi, saya ingin mengetahui apakah anda sudah mengetahui Kedekatan Suharto dengan PKI saat itu, lalu sudahkah anda pernah mendengar ungkapan “membalas dengan senyuman” ? yang mana ini ada hubungannya dengan kejadian ketika Nasution memergoki Suharto menyelundupkan beras bersama Liem Sio Liong sehingga Suharto ditangkap dan mendapat tamparan keras dari Ahmad Yani. Ini adalah hasil balas dendam Suharto terhadap Ahmad Yani dan Nasution dengan memanfaatkan PKI yang mana Suharto begitu dekat dengan PKI sehingga dia berhasil masuk kedalam tubuh PKI! CIA, SUHARTO, DEWAN JENDRAL nah dari mereka ada benang merah yang berkaitan dengan peristiwa RERA! (Cobalah merunut sejarah dan jangan setengah)

Pagi 1 Oktober 1965 Bung Karno berada di Halim. Malam harinya ia menginap di rumah istri Dewi Soekarno di Slipi (Wisma Yaso). Pagi-pagi setelah mendapat kabar mengenai penculikan para jenderal, ia berangkat bersama ajudan Parto menuju Istana negara, namun menjelang sampai Istana, jalanan diblokade oleh tentara. Menurut ajudan, pasukan tersebut tidak dikenal, karena memang tidak ada jadwal blokade jalan menuju Istana.

Dalam waktu cepat Parto mengambil inisiatif dengan tidak meneruskan perjalanan ke Istana. Mungkin ia menangkap firasat bahaya jika Presiden ke Istana. Lantas Parto mengusulkan Sebaiknya ke Halim saja, pak. Kalau ada apa-apa dari Halim akan dengan cepat terbang ke tempat lain, katanya. Bung Karno menurut saja. Dalam protokoler pengamanan presiden, jika pasukan pengaman merasa presiden dalam bahaya, maka tujuan utama adalah lapangan terbang. Dengan begitu presiden bisa diterbangkan ke mana saja secara cepat. Itu asal-muasal presiden berada di Halim. Mungkin Parto (juga Bung Karno) tidak tahu bahwa para jenderal diculik dan dibawa ke Halim. Sesampainya ke Halim pun Bung Karno belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Baru setelah beberapa saat di Halim, beliau diberitahu oleh para pengawal. Beberapa saat kemudian ia menerima laporan dari Brigjen Soepardjo. Aidit pagi itu juga berada di Halim. Inilah keanehannya: para tokoh sangat penting berkumpul di Halim. Kalau Oemar Dhani berada di sana, itu masih wajar karena ia adalah pimpinan AURI. Tetapi keberadaan Aidit di sana sungguh mengherankan. Bung Karno dan Oemar Dhani berada di satu tempat, sedangkan Aidit berada di tempat lain sekitar Halim. Setelah Bung karno terbang ke Istana Bogor (prosesnya dirinci di bagian lebih lanjut), Aidit terbang ke Jawa Tengah.

Beberapa hari kemudian Aidit ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto di Brebes, Jawa Tengah. Menurut kabar resmi Aidit ditembak karena saat ditangkap ia melawan. Tetapi menurut laporan intelijen kami Aidit sama sekali tidak melawan. Soeharto memang memerintahkan tentara untuk menghabisi Aidit, katanya. Dengan begitu Aidit tidak dapat bicara yang sebenarnya.

Saya lebih percaya pada laporan intelijen kami, sebab istri Aidit kemudian cerita bahwa pada tanggal 30 September 1965 malam hari ia kedatangan tamu beberapa orang tentara. Para tamu itu memaksa Aidit meninggalkan rumah. Suami saya diculik tentara, ujarnya. Setelah itu Aidit tidak pernah pulang lagi sampai ia ditembak mati di Brebes.

Hanya beberapa jam setelah para jenderal dibunuh sekitar pukul 11.00 WIB, 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dari pangkalan udara Halim mengeluarkan instruksi yang disampaikan melalui radiogram ke markas Besar ABRI. Saat itu Bung Karno hanya menerima informasi bahwa beberapa jenderal baru saja diculik. Belum ada informasi mengenai nasib para jenderal, meskipun sebenarnya para jenderal sudah dibunuh.

Inti instruksi Bung Karno adalah bahwa semua pihak diminta tenang. Semua pasukan harap stand-by di posisinya masing-masing. Semua pasukan hanya boleh bergerak atas perintah saya selaku Presiden dan Panglima Tertinggi ABRI. Semua persoalan akan diselesaikan pemerintah/Presiden. Hindari pertumpahan darah.

Demikian antara lain isi instruksi Presiden. Instruksi itu ditafsirkan Soeharto bahwa Untung dan kawan-kawan sudah kalah, karena gerakan menculik dan membunuh para jenderal tidak didukung oleh Presiden. Instruksi lantas disambut Soeharto dengan memerintahkan anak-buahnya menangkap Untung dan kawan-kawan.

Jelas ini membingungkan Untung. Ia sudah melapor ke Soeharto soal Dewan Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden Soekarno. Untung juga mengutarakan niatnya untuk mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka lebih dulu. Semua ini didukung oleh Soeharto. Bahkan Soeharto malah memberi bantuan pasukan.

Setelah anggota dewan Jenderal dibunuh, Soeharto malah menyuruh Untung ditangkap.

Mengenai soal ini saya ingat cerita Untung kepada saya saat kami sama-sama dipenjara di Cimahi. Untung dengan yakin mengatakan bahwa ia tidak akan dieksekusi meskipun pengadilan sudah menjatuhkan hukuman mati. Sebab Soeharto yang mendukung saya menghantam Dewan Jenderal. Malah kami didukung pasukan Soeharto yang didatangkan dari daerah, katanya. Teman-teman sesama narapidana politik juga tahu bahwa Untung adalah anak emas Soeharto. Tapi akhirnya Untung dihukum mati dan benar-benar dieksekusi.

Hampir bersamaan dengan keluarnya instruksi Presiden-mungkin hanya selisih beberapa menit kemudian – Soeharto memanggil ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko yang berada di Halim agar menghadap Soeharto di Makostrad. Ini mungkin hampir bersamaan waktunya dengan perintah Soeharto agar Untung dan kawan-kawan ditangkap. Di Makostrad Bambang Widjanarko diberitahu Soeharto agar Presiden Soekarno dibawa pergi dari Pangkalan Halim sebab pasukan dari Kostrad di bawah pimpinan Sarwo Edhi Wibowo sudah disiapkan untuk menyerbu Halim.

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Poskan Komentar